Category Archives: Komunitas Indonesia

Emak Semua Bangsa

Diantar Anak Anak
Dan OrangTuanya Ke
Airport Saat Mudik

Cerita dibawah ini sangat tidak menarik bagi anda yang saat ini tinggal di Indonesia. Kenapa ?, karena sangat bertentangan sekali dengan berita berita yang saat ini marak di media Indonesia terutama tentang perilaku orang Arab yang terkesan negatif terhadap orang Indonesia. Berita berita di Indonesia benar benar telah berhasil membuat opini masyarkat yang tidak tahu sama sekali dunia luar menjadi percaya bulat bulat bahwa orang Arab jahat, kejam dan tidak berperi kemanusiaan terutama setelah terjadinya hukum pancung dan penyiksaan terhadap orang Indonesia di Saudi Arabia. Apalagi saat ini masih ada beberapa orang Indonesia yang berada di penjara dan terancam hukuman mati karena perbuatan kriminalnya di Saudi Arabia. Saya rasa,ada yang salah dengan kita saat berada jauh dari negeri sendiri.

Hati Hati Ya Mam !
Semoga Selamat Sampai
Di Indonesia

Sejak saya menginjakkan kaki di bumi Arab sekitar 5 tahun lalu, yang saya lakukan pertama kali adalah berinteraksi dan memperkenalkan diri dengan tetangga dan siapa saja dikiri kanan yang saya temui di Kuwait. Hal ini didukung pula oleh anak anak saya yang selalu mengajak teman temannya sekolahnya untuk datang kerumah saya. Dari teman teman sekolah anak anak saya inilah kami bisa berkenalan dengan orang tuanya dan selanjutnya dengan siapa saja yang direkomendasikan apabila saya mendapatkan masalah dengan urusan tertentu. Seperti siapapun pada umumnya, semua orang pada dasarnya akan dengan senang hati membantu kalau kita mau berbicara dengan baik dan santun. Apapun suku bangsanya dan apapun agama atau latar belakang politiknya pada dasarnya semua orang baik..

Mam, Sampaikan Salam
Saya Untuk Semua

Orang Indonesia

Rumah saya terbuka untuk siapa saja dan itulah sebabnya kenapa anak anak dan juga orang tuanya seringkali singgah meskipun hanya beberapa menit saja. Saya buka seorang rasialis yang berteman hanya dengan satu suku bangsa dengan warna kulit tertentu. Saya juga bukan seorang radikal yang hanya menganggap benar agama tertentu. Bagi saya, semua adalah sama dihadapan Allah. Dan dengan cara ini saya harapkan anak anak saya kelak bisa menghargai perbedaan. Saya juga sadar sekali, tidak semua orang Indonesia diluar negeri khususya Timur Tengah melakukan hal yang sama dengan saya. Yang saya ketahui, kebanyakan orang Indonesia membuat jarak dengan pnduduk setempat sejak pertama kali datang dan asyik berkelompok dengan komunitas Indonesianya dengan cara membuat berbagai macam perkumpulan, organiasi, arisan ibu ibu, keompok pengajian khusus untuk orang Indonesia atau apapun yang pada dasarnya menutup kemungkinan berinteraksi dengan penduduk asli setempat.

Pulang Mudik Diantar Arab

Ada yang salah dengan kita, kenapa kita yang mencari nafkah ditanah mereka malah mengambil jarak dengan membentuk komunitas komunitas kecil dan terkadang ada juga diantara kita yang berpikir sebaliknya yaitu menganggap penduduk asli sebagai orang asing yang patut dihindari. Peran media di Indonesia memutar balikkan fakta dan membuat stereotip Arab sedemikan negatif sangat disayangkan dan menurut saya menyebabkan siapapun orang Indonesia yang datang ke Timur Tengah, khususnya Kuwait membuat jarak yang cukup jauh dengan warga Arab. Kita harus sadar bahwa kita adalah ‘Allien’ bagi mereka, bukan sebaliknya dan kita yang harus mendekati mereka agar tetap terus ‘gajian’ karena kita adalah expatriate yang bekerja untuk negara mereka… :)

Baca Juga :

Catatan Umroh 2 : Jalan Panjang Menuju Madinah

Rombongan Umroh Perjalanan Darat
Masyarakat Indonesia Di Kuwait
 
Segar Bugar Dan Ceria Di Tengah
Perjalanan

Semangat tinggi untuk segera tiba dan beribadah di Madinah sedemikian tingginya sehingga rasa letih dan lelah tidak terasa lagi. Semua kalah dengan ‘Panggilan Allah’ yang sedemikian kuatnya. Baca :Catatan Umroh 1 : 8 Jam Di Border Kuwait Saudi. Dibawah ini akan saya ceritakan hal hal menarik, lucu, aneh dan ajaib sekitar umroh perjalanan darat dengan bus antara border Saudi ke Madinah yang berjarak sekitar 979 Km dan bisa ditempuh dalam waktu 15 jam dengan 4 kali istirahat di tempat istirahat exclusive khas Saudi Arabia yang tidak pernah saya jumpai di Kuwait, Indonesia atau negara manapun yang pernah saya singgahi. Suatu saat nanti kalau ada umroh perjalanan darat dengan onta akan saya ulas juga pengalaman saya dalam blog ini.

Jalan Raya Antara Saudi Border Ke Madinah
Lurus Dan Tak Ada Apapun
Yang Bisa Diceritakan
Jalan raya Saudi tidak selebar jalan raya di Kuwait. Lampu penerangan jalan hampir tidak ada dan gelap kecuali beberapa lampu dari mobil yang berpapasan. Sangat sepi saat kita melintas dan dari hal ini saja saya sudah bisa berkesimpulan bahwa Kuwait lebih glamour dibanding Saudi. Sepanjang jalan tidak ada yang bisa saya ceritakan karena jalan lurus nyaris tidak ada belokan sama sekali dan sepanjang kiri dan kanan jalan cuma gurun pasir datar yang kering kerontang. Kuwait masih lebih hijau dibanding Saudi karena pepohonan masih banyak yang kita lihat terutama farm atau kebun kebun hijau penduduk yang cukup banyak disepanjang highway Kuwait. Dari GPS yang saya bawa, saya bisa mengetahui jarak rumah sakit terdekat, pompa bensin atau lainnya. Semuanya cukup jauh dan menurut saya sangat sulit untuk mendapatkan pertolongan pertama kalau sampai terjadi kecelakaan.
Super Sopir



Ngopi Diatas Kecepatan 100 Km/Jam
Di Jalan Yang Lurus

Sopir bus kita bernama Abu Mohammad, artinya Bapaknya Mohammad. Di dunia Arab sini sudah merupakan hal yang umum dan merupakan kehormatan kalau memanggil seseorang dengan nama anak lelaki sulungnya. Sepanjang perjalanan yang panjang ini beliau tidak didampingi sopir pengganti sama sekali. Selalu tersenyum dan sangat ramah sekali. Bbiasanya orang Arab sangat sulit tersenyum kalau bertemu dengan orang yang baru dikenalnya. Kalau sudah kenal guyon ngakakpun sama saja dengan kita. Pak sopir ini punya keahlian khusus yaitu menuang minuman hangat dari termos yang selalu dibawanya dan diletakkan didekat kakinya saat kecepatan mobil diatas 100 Km/jam tanpa oleng kekiri atau kekanan. Terus terang, perhatian saya selalu terfokus kepada sopir ini, saya benar benar khawatir si sopir ngantuk karena tidak istirahat tidur saat di border.

Pompa Bensin



Pompa Bensin Baru Dan Terbagus
Sayang Belum Ada Yang Digital

Pompa Bensin di Saudi masih sangat jauh ketinggalan jaman disbanding Kuwait atau Indonesia. Dijaman serba digital seperti sekarang ini, meteran pompa bensin masih seperti pompa bensin di Indonesia sekitar tahun 1970 – 1980. Tidak saya lihat satupun sepanjang jalan ke Madinah yang menggunakan meter digital dan kalau mereset meter ke 0 harus dioglek oglek beberapa kali baru bisa nol. Mungkin harus ditendang dulu baru bisa nol. Setiap station pompa bensin jumlah pompanya luar biasa banyak, saya perhatikan rata rata diatas 20 – 40 pompa. Tetapi jumlah mobil yang keluar masuk mengisi bensin cuma beberapa mobil saja sehingga banyak pompa yang tidak difungsikan. Katanya saat musim haji semua pompa akan difungsikan semua.

Restoran



Rumah Makan ‘Simpang Raya’nya
Saudi Arabia

Sama dengan di Indonesia, setiap tempat istirahat selalu ada Pompa Bensin, Restoran, Toilet, Bengkel atau Supermarket. Tetapi jangan dibandingkan dengan tempat istirahat di sepanjang tol Jagorawi di Indonesia yang penuh dengan Starbuck, Mc Donald atau restoran franchise yang apik. Di Sepanjang jalan menuju Madinah (dan juga Madinah Mekah) restoran yang ada kira kira dua tingkat dibawah restoran Simpang Raya atau Restoran Pagi Sore disepanjang Lintas Sumatra. Menu makanan sangat terbatas dan soal kebersihan jauh sangat terbelakang. Paling banter menu yang ada adalah Sandwitch, Burger, Nasi Biryani dan Ayam Panggang.

Saudis Yang Tidak Takut Diphoto

Sebagai orang Indonesia kita sudah terbiasa tertawa lebar bersama sama, mondar mandir cicip sana cicip sini saat bertemu dengan kawan satu perjalanan, bergabung dengan keluarga lain satu bus untuk menikmati makanan yang kita pesan. Di Restoran Saudi ternyata membawa malapetaka, kita terutama yang wanita dihardik cukup keras oleh orang Arab agar tidak tertawa cekakakan.

Ramai Ada Yang Marah
Saat Kejepret Kamera

Tidak cuma itu saja, wanita diminta naik kedalam bus kembali dan hanya laki laki saja yang boleh ngantri makanan. Restoran di Saudi umumnya dibeda bedakan antara ruang untuk Laki Laki, Perempuan dan Family.  Kita tidak bisa seenaknya bergabung dengan keluarga lain meskipun berada di ruang Family, kalau nampak cicip sana cicip sini dan main comot makanan keluarga lain langsung diusir keluar restoran. Untungnya orang Arab yang tidak tahu kebiasaan orang Indonesia tadi jumlahnya kalah banyak dengan kita dan kita masih bisa cuek saja makan bersama dengan rombongan Umroh dari Kuwait yang lain.

Restoran Fast Food Baru
Masih Bersih Dan Apik
Entah dalil mana yang dipakai, saat kita photo photoan didalam restoran seorang wanita tiba tiba marah dan minta segera menghentikan jeprat jepret yang kita lakukan. Barangkali dia takut tertangkap kamera karena sedang makan bersama selingkuhannya atau barangkali karena alasan lain yang saya tidak ketahui. Padahal menurut saya tertangkap kamerapun sebenarnya tidak apa apa dan tidak akan ada satu orangpun yang mengetahui karena wanita tersebut yang terlihat hanya matanya saja. Abaya hitamnya sudah menutupi seluruh tubuhnya kecuali mata saja yang terlihat. Kenapa takut dan marah ?
Toilet



Toilet Terbersih Yang
Saya Temui Di Saudi

Ini yang paling heboh dan membuat perjalanan kita penuh dengan canda tawa sepanjang jalan. Kalau tidak sedang perjalanan Umroh, barangkali kita sudah ngedumel menyaksikan  toilet Arab ditempat tempat istirahat sepanjang perjalanan ke Madinah (dan juga Mekah) ini. Tetapi karena sudah kehendak yang diatas bahwa kita harus berhenti di tempat istirahat semacam ini, maka apapun yang kita temui sepanjang jalan kita ambil hikmahnya dan kita anggap sebagai barokah. Semua pemandangan dan temuan didalam toilet harus kita ‘syukuri’ dan kita jadikan bahan pembicaraan dan guyonan yang tidak ada habisnya. Ada yang menemukan ‘harta karun’ yang berukuran jauh lebih besar dari orang Arab pemiliknya, ada yang menyebut ‘temuannya’ sebagai ‘isyarat akan datangnya rejeki’  dan ada juga yang mengatakan temuannya didalam toilet sebagai ‘rejeki’ karena tidak semua orang bisa ketemu ‘harta karun’ yang bisa bikin mampet toilet. Pokoknya asal ngomong saja, yang penting gembira dalam perjalanan darat yang cukup jauh ini. Soal aroma, susah untuk ditulis dengan kata kata, yang jelas parfum seharum apapun akan kalah semerbak dibandung parfum asli Saudi ini.

Satu Teko Untuk ‘Harta Karun’
Segede Gajah – Pantas Mampet

Kenapa rata rata toilet umum di Saudi joroknya bukan main,  nah jangan tanyakan kesaya. Yang jelas kalau melihat teko untuk menyiram yang tersedia didalam toilet yang ukurannya hanya sekitar 1 liter saja per teko maka jelas tidak akan bisa menggelontor ‘harta karun’ orang Arab yang ukurannya sudah jelas jauh lebih besar dari rata rata bangsa lain. Apalagi kalau benar perkataan seorang kawan yang begitu sumringah ekspresinya saat meneriakkan temuannya ke kita semua yang sedang duduk duduk santai ‘Wuah…. Buesar Sekali Mbak……!!!!!’.

Catatan Umroh 1 : 8 Jam Di Border Kuwait – Saudi

Merdeka ! Lolos Pemeriksaan
Dan Stamp Passport
Seru…., 100% seru dan pengalaman yang luar biasa mengikuti perjalanan umroh lewat darat dari Kuwait ke Saudi Arabia. Setiap tahun kita sekeluarga selalu Umroh berangkat dan mengatur perjalanan sendiri dan selalu lewat udara tetapi baru kali ini kami mencoba melalui darat. Baca : Kalau Suami Istri Beda Tinggi dan Umroh Berangkat Dari Kuwait. Perjalanan Umroh ini kami lakukan tanggal 31 Mar – 7 Apr 2011. Tepat jam 14:00 tanggal 31 Mar, kami memulai petualangan perjalanan darat dengan bus bersama rombongan Masyarakat Indonesia di Kuwait. Total 2 bus atau sekitar 80 orang yang berangkat dari segala kalangan masyarakat Indonesia yang bekerja di Kuwait.
Tempat Kumpul
Masjid Indonesia Di Kuwait
Tempat berkumpul rombongan darat dipilih di Masjid Indonesia Di Kuwait, satu satunya masjid di Kuwait yang dikelola oleh masyarakat Indonesia. Masjid ini terletak di Regee sekitar 1.5 jam [179 km] dari perbatasan Kuwait – Saudi Arabia. Tidak semua calon jamaah Umroh saya kenal dan suasana masih terasa kaku meskipun sebenarnya kita sudah pernah bertemu sebelumnya saat manasik. Komunitas Indonesia di Kuwait memang banyak dan besar sekali, sehingga tidak mungkin rasanya kita mengenal satu persatu. Tetapi tidak apa apa, cerita dibawah ini mengakibatkan kekakuan kita menjadi lumer dan seolah kita adalah sebuah keluarga besar yang saling bantu membantu baik saat susah maupun saat lebih susah lagi di border.
2 Jam Di Perbatasan Kuwait

Ruang Tunggu
Salmi Border Kuwait
Perjalanan dengan bus dari Masjid Indonesia Regee ke check point Salmi border Kuwait yang berjarak sekitar 179 km bisa ditempuh hanya 1.5 jam saja. Highway 70 Kuwait yang lebar dan mulus membuat perjalanan begitu nyaman. Tetapi hal ini tidak terlalu lama terjadi, begitu tiba di perbatasan, ternyata proses check passport di pintu keluar Kuwait ini butuh waktu 2 jam !. Waktu yang cukup lama sekali hanya untuk urusan pemeriksaan passport atau stamp passport. Sebagai catatan, system komputerisasi dan database imigrasi Kuwait terbilang canggih. Jangan coba coba melintasi border Kuwait seandainya anda punya tunggakan kredit atau punya catatan kriminal. Bisa jalan kaki kembali ke Kuwait City karena tidak ada taxi atau angkutan umum sama sekali di border ini.



Ngantri Stamp Passport
Cukup Disodorkan Dari Jendela

Pos check imigrasi di perbatasan Kuwait ini menurut saya sangat jauh ketinggalan jaman dibanding border negara lain meskipun system komputerisasi Kuwait terbilang canggih. Negara sekaya Kuwait, bordernya kira kira sama dengan border Singapore-Johor Malaysia 75 tahun lalu, terutama gedungnya. Untuk periksa dan stamp passport, semua penumpang bus harus ngantri diudara terbuka, tidak ada tempat duduk, café atau tempat makan dan minum seperti layaknya sebuah border modern. Sempat terpikir jiwa bisnis saya, seandainya saja diperbolehkan buka usaha ditempat ini, pasti laris manis. Paling tidak jual es dawet, es campur atau semacamnya.

Antrian Paling Belakang
Nyaris Keluar Gate

Beruntung Umroh ini dilakukan bulan April saat udara terasa sejuk di Kuwait. Seandainya dilakukan saat musim panas atau musim dingin, bisa jadi seluruh penumpang bus akan kering atau membeku. Untungnya tidak ada Badai Pasir saat kami ngantri seperti yang terjadi beberapa minggu lalu. Yang cukup parah, gedung tempat pemeriksaan ini rusak parah dan hanya beberapa ruang saja yang digunakan, mungkin gedung check point ini bekas sasaran bom saat jaman perang dengan Irak tahun 1991 lalu. Dimana mana tampak runtuh dan rusak parah. Sangat kontradiksi dengan gedung gedung di Kuwait City yang megah dan gemerlap. Saya jadi ingat Battle Of Khafji yang terjadi tahun 1991 lalu.

Antrian Panjang
Sopirnya Ada Yang Turun Juga

Lebih celaka lagi, proses stamp passport cukup melalui jendela berjeruji. Para pelintas batas cukup menyodorkan passportnya melalui jendela dan apabila proses pengecekan selesai langsung petugas berteriak keras keras ‘Jumadi Bin Maksum !!!!!’, dan secara estafet pengantri paling depan akan meneriakkan hal yang sama sampai pemilik nama maju kedepan.  Antrian mobil juga tak kalah hebohnya, sopirnya terlihat ada yang seenaknya turun, entah ke kamar kecil atau ngantri stamp passport kurang begitu jelas. Yang saya lihat mobil yang dibelakangnya sibuk memundurkan mobilnya untuk pindah jalur check point yang kosong.

6 Jam di Perbatasan Saudi Arabia



Border Saudi
Periksa Komplit 6 Jam

Hanya beberapa ratus meter dari border Salmi di Kuwait, kita sudah sampai di border Saudi Arabia, sebut saja Al-Khafji border. Gedungnya memang lebih bagus dibanding Salmi tetapi proses birokrasi pemeriksaan sangat tidak effektif dan buang buang waktu. Jauh lebih parah dibanding Kuwait. Total waktu di border Saudi Arabia ini 6 jam !!!. Kalau membawa ketela Pohon bisa jadi tape nih kalau begini caranya. Gedung sebesar ini ternyata tidak saya temukan tempat makan dan minum sama sekali. Yang mudah terlihat cuma penumpang yang mondar mandir kesana kemari. Musholla tersedia dimana-mana, paling tidak kita bisa berdoa terus menerus 6 jam nonstop tanpa henti.

Ruang Pemeriksaan Barang
6 Jam Tidak Diperiksa  Petugas
Sama Sekali

Pertama kali datang, bus diminta parkir dan pak sopir diminta menuju kesalah satu ruang untuk mengambil nomor urut seperti layaknya di klinik kesehatan, dan dapat nomor urut 27. Saat mengambil nomor urut ini sudah sekitar jam 20:00 dan saat itu yang sedang diproses baru nomor urut 12, perkiraan jam 3 pagi baru selesai. Jam 24:00 bus baru diijinkan bergerak menuju pos pemeriksaan. Seluruh penumpang diminta turun dan barang bawaan termasuk yang di bagasi juga harus diturunkan. Semua kopor diminta untuk dibuka, tetapi 2 jam menunggu tidak ada satupun petugas yang datang memeriksa. Kopor kopor yang berjam jam kita tungguin ini memang akhirnya tidak diperiksa sama sekali. Petugas cuma datang dan langsung ‘khalas’ yang artinya ‘selesai’. Si petugas cuma mengatakan ‘Finish….’. Hebat….., tanpa dilihat dan disentuh sedikitpun langsung Finish, barangkali tehnologi Saudi lebih canggih dan menggunakan radar atau Tehnologi Penginderaan Jarak Jauh tercanggih didunia.

Meeting, Membahas
Keajaiban Birokrasi Saudi

Semua barang dan penumpang harus diturunkan karena bus akan discan disuatu tempat khusus yang berjarak sekitar 300 meter dari tempat kita diturunkan. Ditanggung bingung kalau anda yang jadi sopir, karena tempat scan ternyata bus harus balik arah kembali. Lumayan, 4 jam sendiri nunggu bus selesai scan. Penumpang sudah banyak yang senyam senyum ngrasani proses birokrasi ajaib ala Saudi,  tidak adanya tempat duduk atau cafe tempat makan dan minum dan bosan menunggu kopor masing masing yang terbuka nunggu diperiksa petugas.

Enjoy Saja, Sambil
Makan Menanti Keajaiban Lain
Selesai bus di scan saya kira urusan telah selesai, ternyata masih ada proses lagi yang unik, yaitu semua wanita digiring ke suatu ruang untuk diperiksa. Sempat heran juga, kenapa yang laki laki tidak diperiksa sama sekali. Petugas wanita yang memeriksa menanyakan ‘apakah semua sudah diperiksa ?’, dan karena tidak tahu jawaban kami tidak kompak, ada yang njawab ‘sudah’ dan banyak yang njawab ‘belum’. Akibatnya nunggu lagi sampai semua benar benar diperiksa.



Tetap Happy Dan Optimis

Detektor logam seperti di airport tidak berfungsi sama sekali, jadi cara memeriksanya cukup digeledah satu persatu. Anjing pelacak jelas tidak digunakan karena termasuk kategori haram. Kotak Saran banyak tersedia dimana mana, tetapi entah dibaca atau tidak kurang begitu jelas. Cerita ini belum selesai dan akan bersambung dengan cerita ajaib dunia Arab yang lain.