Category Archives: Keluarga

Selamat Ulang Tahun Anakku, Dinda

Tinggal di Kuwait terkadang ada rasa sedih juga kalau jauh dari keluarga dan saudara. Meskipun komunitas Indonesia di Kuwait begitu akrab, sangat baik dan bagaikan keluarga kita sendiri, terkadang muncul juga rasa rindu dengan keluarga asli kita di Indonesia. Rasa rindu akan muncul dengan sendirinya kalau kita sedang sakit atau sedang bergembira merayakan pesta untuk salah satu dari keluarga kita. Tidak hadirnya keluarga kita dalam acara acara keluarga tidak bisa tergantikan 100 % dengan hadirnya ‘keluarga baru’ komunitas Indonesia di Kuwait.

Oleh karena itu, ada rasa dendam kesumat pada saat kita kembali ke tanah air tercinta. Hanya beberapa hari saja setelah menginjakkan kaki ke tanah air, langsung saudara kita, Pudjo berinisiatif mengumpulkan  seluruh keluarga besar kita yang tinggal di Jakarta dengan acara yang di’ada ada’kan, pokoknya bisa kumpul bersama. Maklum sudah lama enggak ketemu. Kali ini adalah Buka Bersama sekaligus Ulang Tahun Ke 14 anakku yang nomor 2, Dinda   yang kebetulan bertepatan dengan tanggal 21 Agustus 2010.

‘Selamat Ulang Tahun Ya Nak, Meskipun Kamu Sering Membuat Bunda Sedih, Marah, Menangis Dan Repot Dipanggil Kepala Sekolahmu Karena Ulahmu, Bunda Tetap Mencintaimu dan menyayangimu. Insya Allah tetap menjadi yang terbaik di Sekolah, Juara…..Juara dan Juara….Semoga Kamu Sukses Selalu Dan Kelak Menjadi ‘Orang’ Seperti Yang Kamu Cita Citakan …….Amin’..

‘Oh iya nak, kotak amal hadiah ulang tahunmu yang kamu puter ke pakde Pudjo, bude Atik, pakde Apik, bude Era, Oom Inu, Oom Kelot, mas Tiyan, mbak Santi sudah terkumpul berapa semuanya ?. Nanti berikan ke Bunda semua ya. Anak kecil tidak baik bawa uang terlalu banyak, nanti hilang. Biar Bunda saja yang membawa dan menyimpannya’.

Pidato Terakhir

‘Susy, apa yang kamu cari di Kuwait ?’, inilah pertanyaan yang pernah disampaikan kawan kawan seperguruan di IWAPI dan ASITA menjelang saya berangkat ke Kuwait dua tahun lalu. Pada saat itu, saya benar benar susah sekali menjawab pertanyaan sederhana tadi, disatu pihak saya sudah bertahun tahun punya ikatan emosional dengan dua organisasi yang ikut membesarkan saya. Belum lagi ikatan emosional dengan beberapa LSM yang pernah saya rintis keberadaannya di Indonesia. Bukan dengan organisasi/institusinya saya merasa rindu, tetapi dengan kebersamaan dan kekeluargaan seluruh anggotanya.

Sekarang saya sudah bisa tegar menjawab, hanya satu jawaban saya ‘Keluarga’. Meskipun terkadang suami begitu menyebalkan, meskipun terkadang anak anakku Ayu dan Dinda begitu menjengkelkan, aku benar benar cinta mereka. Usaha usaha yang pernah saya rintis dari kecil biarlah berjalan apa adanya tanpa saya harus menungguinya. Saya percaya benar dengan profesionalism anda semua, saya yakin dan percaya bahwa rejeki tak perlu dicari, kalau memang milik kita akan datang dengan sendirinya. Dan atas bantuan tehnis dan moral yang teman teman berikan, saya secara pribadi mengucapkan terima kasih atas pencapaian dan kerjasama yang telah kita lakukan selama ini.

Dan pidato terakhir saya ini bukan untuk memutus tali silaturahmi kita, saya masih ingin datang kembali pada tutup buku tahun – tahun mendatang. Harapan saya masih pada anda semua.

Hari Ini 16 Tahun Yang Lalu

Alkisah pada jaman dulu kala ketika Blackberry belum ditemukan dan Facebook belum ada, tinggallah seorang perempuan muda dengan suaminya yang tampan disebuah desa terpencil bernama Minas, Kabupaten Bengkalis, Propinsi  Riau. Desa ini terletak ditengah tengah hutan yang lebat dan jauh dari mana mana. Pada saat itu keluarga ini tampak manis dan bersahaja dan sekali kali tersirat wajah bahagia menanti kelahiran anak pertamanya. Pada saat suami bekerja mencari minyak di hutan, si istri dengan setia menunggu suami tercinta pulang bekerja.

Hari berganti, saatnya perut mules mules pertanda si jabang bayi ingin segera lahir. Di desa terpencil tadi hanya ada sebuah klinik kecil saja dan saat itu hanya ditunggui perawat piket saja yang menyarankan untuk dibawa ke Rumbai Hospital karena semua dokter adanya di Rumbai. Karena tidak ada pilihan lain, maka si ibu yang mau melahirkan tadi bersedia untuk melakukan perjalanan selama satu jam menuju desa lain Rumbai. Perjalanan terasa sangat lama sekali karena jalan Minas Rumbai terkenal sangat licin sekali terutama kalau hujan. Jalan raya Minas Rumbai ini masih berupa tanah yang disiram minyak mentah.

Pada saat saat kelahiran anak pertama, pasangan suami istri tadi benar benar jauh dari sanak dan saudaranya sehingga semua persiapan harus dilakukan berdua saja. Hampir 2 malam di Rumbai si Jabang Bayi belum mau lahir juga, sehingga disamping menunggu, si suami juga mondar mandir Minas Rumbai melalui jalan minyak yang licin tadi hanya untuk mengambil barang barang yang tertinggal atau diperlukan saja.
Akhirnya, si suami kelelahan dan tertidur di Minas sedangkan si istri masih berjuang melahirkan di Rumbai. Tepat tanggal 16 January 1994 jam 17:30, lahirlah bayi mungil perempuan dengan berat 3.65 kg pada saat si bapak masih tertidur pulas di Minas. Bayi kecil ini sekarang sudah tumbuh menjadi gadis remaja dan bernama  Ayu Putri Pertiwi, dia pun sudah malu kalau jalan jalan dengan orang tuanya maunya dengan teman teman sebayanya, sudah bisa menolak apa yang dikatakan orang tuanya.

Selamat ulang tahun nak, aku mencintaimu.
Semoga tetap menjadi anak yang sholehah,  selalu sehat dan panjang umur.
Semoga kesuksesan menyertaimu. nak………….amin

Ayah Ardi dan Bunda Susy
Egaila – Kuwait, 16 January 2010
Baca Juga :