Perjalanan Hari Ke 2 (Jordan)


Jerash, Madaba, Mount Nebo dan Dead Sea
Perjalanan Hari Kedua di Jordan lumayan melelahkan, keluar dari Al Danah Hotel setelah makan pagi jam 07:00. Sopir yang mengantar kami sudah lama menunggu dengan mobil sedan ‘Samsung’, kalau di Indonesia merk tersebut lebih populer sebagai merk telpon seluler dan kamipun juga baru tahu di Jordan ada obil dengan merk telpon seluler.

Tentang Mohammed :
Mohammed, sopir yang mengantar kami adalah asli orang Palestine. Seperti yang telah diketahui banyak orang, beliau terusir ke Jordan karena perselisihan antara warga Palestine dengan Israel 20 tahun lalu. Pada saat itu ybs keluar dari tanah leluhurnya untuk mengunjungi keluarganya di Jordan, tetapi ternyata tidak bisa pulang kembali ke Palestine karena Pemerintah Israel melarang warga Palestine masuk kembali ke tanah tumpah darahnya. Tragis memang, dan sekarang ybs bersama istri dan 5 orang anaknya bertahan di Jordan dan masih ingin kembali ke Palestine kalau perdamaian telah abadi di tanah kelahirannya tercinta. Untuk bertahan hidup di Jordan, dia belajar bahasa Inggris, Jerman dan Perancis, hasilnya sekarang sebagai guide yang sekaligus bisa mengajari bahasa Arab tourist yang dibawanya. Sepanjang perjalanan selalu bicara dan menjelaskan apapun yang dilalui termasuk pohon Zaitun dan alasan kenapa dijadikan simbol perdamaian. Lihat gaya dia menjelaskan pohon Zaitun pada saat berhenti ditengah jalan antara Amman – Jerash disamping.

Jerash
Jerash hanya terletak sekitar 50 km saja sebelah utara Amman di perbukitan Gillead. Yang kita lihat disini adalah sisa sisa bangunan Romawi seperti Hippodrome, Temple Of Zeus, Cardo Maximus dan lain lain. Jalan menuju tempat diatas masih asli bebatuan seperti dalam film film romawi dan masih nampak jelas bekas dilalui roda roda pedati. Kalau nggak salah seminggu dua kali ada pertunjukan Romawi, semacam gladiator, pertandingan charriot, dll. Tiket masuk bisa dibeli online melalui http://www.jerashchariots.com/.

Sejarahnya Jerash dibangun pada abad 3 SM. Jerash pada saat itu bagian dari Decapolis dan pada saat itu namanya Gerasa dan merupakan provinsi otonomi dari Romawi Syria. Jerash kehilangan otonominya dibawah kekuasaan Kaisar Trajan. Setalah itu menjadi kota Kristen dibawah Byzantium dan diambil alih oleh Persia pada tahun 614 dan menjadi Muslim pada tahun 635. Terakhir hancur lebur terkena gempa bumi pada abad ke 8.

Sayang di Jerash tidak bisa lama lama, Ayu dan Dinda mengeluh terus, dari kemarin yang dilihat batu melulu…..Bapaknya lebih parah lagi sejak turun dari mobil langsung menghilang, tidak bertanggung jawab dengan barang bawaan. Setelah nongol sambil senyam..senyum ..baru ketahuan ternyata ngumpet jauh sekali cari tempat pipis dibawah pohon pohon.

Madaba

Madaba terkenal dengan sebutan ‘The City Of Mozaics’ dan merupakan kota kecil dengan penduduk sangat majemuk dari berbagai macam agama dan aliran agama, Yahudipun ada. Kota ini mayoritas Kristen, tetapi kalau dilihat populasinya ternyata 3% dari total 5 % yang beragama kristen di Jordan bertempat tinggal di Madaba. Agak susah membedakan masjid dan gereja karena dikota ini gerejapun banyak yang memakai kubah. Kota ini sangat dekat dengan Israel dan sejarahnya memang tempat pelarian dari Israel bagi warga yang muak dengan perselisihan disana dan memilih hidup rukun penuh kedamaian.

Dikota ini terdapat gereja kristen orthodox tua St Goerge yang penuh dengan hiasan Mozaics indah dan lantainya berhiaskan peta Mosaics daerah sekitar seperti Palestine dan Jordan di utara, Egypt di selatan. Ada juga rencana pembangunan kota Jerusalem. Ada juga Jordan Archeological Museum dan dari museum ini kita baru tahu ditengah gurun yang kering ini ternyata banyak sekali ditemukan puing puing sisa bangunan gereja tua dan semuanya penuh dengan hiasan mosaics.

Yang membuat saya terkejut adalah semua orang mengucapkan ‘assalamualaikum’ kalau saling bertemu. Artinya kata tersebut bukan milik muslim seperti yang kita kenal di Indonesia, tetapi milik Arab apapun agamanya. Baik Muslim maupun Yahudi dikota ini semua membuat souvenir untuk pelancong kristen, tidak ada batas yang jelas antar agama, bahasa mereka satu saja ‘kami makhluk Allah yang hidup dan mati karenaNya, buat apa kami bertikai tentang perbedaan kita kalau lebih banyak persamaannya’. Yahudi pelarian yang saya jumpai disinipun baik sekali dan rukun dengan yang lainnya. Lalu siapa sebenarnya yang sedang bertikai di Israel-Palestine sana ?
Jarak tempuh perjalanan dari Jerash ke Madaba kurang lebih 90 km. Kalau dari Amman menuju Madaba hanya 50 km. Memang begitulah route yang kita lalui untuk mlancong hari ke 2 ya harus muter2 agar dapat 4 tujuan.
Mount Nebo
Gunung ini dipercaya sebagai tempat meninggal dan dimakamkannya nabi Musa AS. Tetapi tempat makamnya tidak ada yang mengetahui. Lokasi tidak begitu jauh dari Madaba menuju Mount Nebo kurang lebih hanya 20 km, dan boleh dikatakan culturenya sama saja, bercampur aduk antara pengikut Judaism dan Kristen, Islam juga tentunya.

Dari atas bukit ini, dan kalau udara cerah kita bisa melihat kota Jerusalem dan Jericho di Israel-Palestine dengan jelas dan hanya dibatasi oleh sungai Jordan yang menurut saya bukan sungai tetapi selokan. Jaraknya hanya beberapa km saja dan malah ada beberapa tempat yang sangat dekat sekali.
Perbatasan Israel dilingkari oleh pagar tinggi berkabel listrik tegangan tinggi, jangan coba coba masuk menyusup ke Israel karena di pagar tersebut katanya juga ada senjata otomatis yang siap memuntahkan peluru kalau ada orang nekat masuk. Ada dua pos penjagaan polisi yang harus kita lalui kalau masuk ke jalan menuju daerah ini, semuanya diperiksa dan digeledah termasuk passport juga kalau kalau membawa senjata pelontar bom. Pos penjagaan perbatasan itu hanya memastikan kita wisatawan atau bukan. Jadi kalau ke Mount Nebo jangan lupa bawa passport dan jangan sekali kali bawa rudal atau senjata pelontar bom. Karena untuk menuju Israel hanya dibatasi oleh Dead Sea.

Dead Sea
Hanya sekitar 15 menit saja dari Mount Nebo kita sudah sampai di Dead Sea. Dari segi ukuran, Danau Toba di Medan jauh lebih besar dibanding Dead Sea. Ada dua hotel di sekitar itu, Dead Sea Spa Hotel dan yang sedang dibangun Amman Beach Hotel. Laut itu airnya benar benar luar biasa Asin dan dibeberapa tempat dijumpai banyak bongkahan garam. Lumpurnya halus sekali dan konon baik untuk kulit bisa menyembuhkan berbagai penyakit dan air asin ini terasa licin sekali di kulit. Hati hati kalau ada kulit yang terluka, bekas garukan saja rasanya perih sekali, kena mata juga pedihnya bukan main. Tidaklah heran kalau di Jakarta sudah mulai dipasarkan perawatan tubuh dengan bahan dari laut mati tersebut. Terutama di Salon salon kecantikan yang menyediakan fasilitas khusus perawatan tubuh.

Dead sea ini separuh merupakan wilayah Jordan dan separuh lagi merupakan wilayah Israel. Sebenarnya gampang sekali kalau mau menyeberang ke Israel, disamping kita bisa mengapung dan tidak bakalan tenggelam karena berat jenis air garam lebih tinggi dari tubuh kita, jaraknya juga dekat sekali dan kita bisa melihat jelas negara Israel/Palestine diseberang sana. (Susy)
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s